Memperingatkan Bahaya Kelompok Sesat, Antara Nasihat dan Cacian

بسم الله الرحمن الرحيم

Memperingatkan Bahaya Kelompok Sesat,

Antara Nasihat dan Cacian

Kemunculan berbagai kelompok sesat dalam Islam adalah sebuah keniscayaan yang diakibatkan oleh munculnya berbagai macam ajaran yang menyimpang dari jalan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- dan para sahabat dalam beragama. Sebagaimana dalam hadits iftiroq, Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam– telah mengabarkan:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّة , وَتَفْتَرِق أُمَّتِي عَلَى ثَلَاث وَسَبْعِينَ مِلَّة , كُلّهمْ فِي النَّار إِلَّا مِلَّة وَاحِدَة , قَالُوا : مَنْ هِيَ يَا رَسُول اللَّه ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi 72 golongan, dan ummatku akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu”. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yang mengikuti aku dan para sahabatku”.(HR. At-Tirmidzi, no. 2641, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, no.171 pada tahqiq kedua)

Lalu apakah kita diam saja membiarkan saudara-saudara kita berpecah belah dalam agama dan memunculkan ajaran-ajaran sesat? Atau membiarkan saudara-saudara kita kaum muslimin disesatkan oleh kelompok-kelompok yang menyimpang?

Tentunya, kewajiban setiap muslim untuk menjaga agama ini dari berbagai penyimpangan sesuai kemampuannya. Sebagaimana kewajiban setiap muslim untuk menyelamatkan saudara-saudaranya kaum muslimin dari kelompok-kelompok sesat yang akan mengajak mereka ke pintu-pintu neraka.

Jika demikian, memperingatkan bahaya kelompok sesat adalah bukti sejati kecintaan seorang muslim kepada saudara-saudaranya kaum muslimin. Inilah yang dipahami para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana dalam atsar berikut:

Abu Shalih Al-Farra’ -rahimahullah- berkata, “Aku menceritakan kepada Yusuf bin Asbath tentang Waki’ bahwasanya beliau terpengaruh sedikit dengan perkara fitnah (Khawarij) ini”. Maka dia ( Yusuf bin Asbath) berkata, “Dia serupa dengan gurunya –yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hay-” . Aku pun berkata kepada Yusuf, “Apakah kamu tidak takut perkataanmu ini merupakan ghibah?” Beliau menjawab, “Kenapa begitu wahai orang dungu, justru saya lebih baik bagi mereka dibanding ibu dan bapak mereka sendiri; saya melarang manusia dari mengamalkan kebid’ahan mereka, karena bisa mengakibatkan semakin banyaknya dosa-dosa para pengajak kepada bid’ah tersebut. Adapun yang memuji mereka, justru lebih membahayakan mereka.” [Lihat At-Tahdzib (2/249 no. 516), sebagaimana dalam Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur, karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan al-Haritsiy. Muraja’ah: As-Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah-, (hal. 27)]

Demikianlah, para ulama tidak sama sekali menganggap pembicaraan tentang kesesatan si fulan atau suatu kelompok sebagai perbuatan ghibah yang haram. Maka sangat mengherankan jika ada seorang muslim, apalagi mengaku Ahlus Sunnah, pengikut sunnah Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam- kemudian marah jika ada saudaranya yang memberi peringatan akan bahayanya berbagai kelompok sesat yang muncul akhir-akhir ini. Bahkan tidak jarang disertai dengan tashnif yang batil dan tuduhan keji kepada saudaranya sebagai kelompok Ahlut Tahdzir wat Tabdi’”, “Mencari-cari kesalahan orang”, “Memusuhi dan mencaci sesama muslim”, “Suka membid’ahkan”, “Sedikit-sedikit bid’ah, sedikit-sedikit sesat”, “Mengkafirkan umat Islam selain mereka”, “Hanya mengambil sikap keras Salaf dan melupakan kelemahlembutan mereka”, “Tidak tahu fiqhud dakwah” dan berbagai macam tuduhan dusta lainnya.

Padahal, menjaga agama ini dari berbagai penyimpangan dan kesesatan adalah sifat orang-orang yang Allah Ta’ala anugerahkan ilmu kepada mereka. Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda:

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين

“Yang membawa ilmu agama ini pada setiap jaman adalah orang-orang terbaiknya, mereka menolak penyimpangan orang-orang yang berlebihan dalam agama, (membantah) para penghapus (agama) dan (meluruskan) tafsiran orang-orang jahil.” [HR. Al-Baihaqi dari Ibrahim bin AbdirRahman Al-‘Adzriradhiyallahu’anhu-, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, (no. 248)]

Perbedaan Nasihat dan Cacian

Wahai saudaraku, pahamilah bahwa sungguh beda antara nasihat dengan cacian; nasihat ingin menyelamatkan Anda dan kaum muslimin dari kesesatan, sedang orientasinya adalah akhirat. Adapun cacian, tujuannya sekedar merendahkan dan menghinakan Anda, sedang orientasinya adalah dunia. Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam- menegaskan:

« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ »

“Agama (Islam) ini adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Kata beliau: “Untuk Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya, serta untuk para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin.” [HR. Muslim (no. 194) dari Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad-Dari -radhiyallahu anhu-]

Al-Imam Abu Sulayman Al-Khatthabi-rahimahullah- menerangkan, “Nasihat adalah mengerahkan segala kemampuan demi (kebaikan) orang yang dinasihati.” [Lihat Syarah Muslim, karya Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- (2/226)]

Oleh karena itu, nasihat adalah sebaik-baiknya pengamalan hadits Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

« لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ »

“Tidaklah sempurna iman seorang diantara kalian, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya (berupa kebaikan)”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu-)

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambaly –rahimahullah- telah mengarang sebuah risalah yang beliau beri judul Al-Farqu bayna an-Nashihah wat-Ta’yir (beda nasihat dan hinaan). Diantara yang beliau jelaskan, “Memang antara nasihat dan hinaan terdapat kesamaan, yaitu penyebutan tentang seseorang yang tidak ia sukai, sehingga menjadi samar perbedaan antara keduanya pada kebanyakan manusia dan Allah-lah yang memberikan hidayah kepada kebenaran.

Ketahuilah bahwa penyebutan tentang seseorang yang tidak ia sukai (ghibah) adalah haram, jika dimaksudkan sekedar untuk menghinakan, menyebarkan aib dan kekurangan. Adapun jika perbuatan tersebut terdapat kemaslahatan bagi kaum muslimin secara umum, khususnya lagi bagi sebagian mereka, sedang maksud dari perbuatan tersebut demi mencapai maslahat, maka tidaklah diharamkan, bahkan disukai melakukannya.”

Beliau -rahimahullah- juga menerangkan, “Maka membantah ucapan-ucapan yang lemah dan menerangkan al-haq ketika ucapan-ucapan tersebut menyelisihi dalil-dalil syar’i, tidaklah termasuk perkara yang dibenci oleh para ulama, bahkan mereka (para ulama) mencintai dan memuji orang yang melakukannya serta menyanjungnya”.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaly -rahimahullah- juga menegaskan, “Oleh karena itu, tidaklah nasihat seperti ini termasuk dalam bab ghibah secara keseluruhan, walaupun diduga bahwa seseorang akan membenci apabila kesalahannya yang menyelisihi al-haq ditampakkan, sehingga kebenciannya pada hal ini tidaklah dianggap. Karena kebencian akan ditampakkannya kebenaran, hanya karena menyelisihi pendapat orang tersebut bukanlah termasuk perangai yang terpuji, bahkan wajib bagi setiap muslim untuk mencintai ditampakkannya kebenaran, sehingga kaum muslimin mengetahuinya, sama saja apakah kebenaran itu selaras dengan pendapatnya ataukah berlawanan.” (Lihat Al-Farqu baina An-Nashihah wat Ta’yir , karya Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambaly –rahimahullah-, softcopy dari www.sahab.net )

Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid –rahimahullah- berkata, “Orang-orang yang bersilat lidah demi mengingkari naqd (bantahan) terhadap kebatilan –walaupun sebagian di antara mereka nampak keshalihan-, tapi semua ini adalah bentuk lemahnya semangat dan kurang memahami kebenaran. Bahkan pada hakikatnya, itu adalah bentuk larinya seseorang dari medan laga di hari peperangan; lari dari daerah pertahanan agama Allah. Ketika itu orang yang terdiam dari ucapan kebenaran laksana orang yang berbicara dengan kebatilan dalam dosa.

Abu Ali Ad-Daqqoq berkata:

الساكتُ عن الحقِّ شيطانٌ أخرسُ، والمتكلمُ بالباطلِ شيطانٌ ناطقٌ

“Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu, sedang yang berucap dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”.” [Lihat Ar-Raddu ‘alal Mukhaalif min Ushulil Islam, karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid –rahimahullah-, (hal. 75-76), sebagaimana dalam Madarikun Nazhor, (hal. 67)]

Beliau –rahimahullah- juga menjelaskan, “Oleh karenanya, jika Anda melihat ada orang yang membantah orang yang menyelisihi (kebenaran, -pent) dalam hal keganjilan fiqih, atau ucapan bid’ah, maka bersyukurlah kepadanya atas pembelaannya, sesuai kemampuannya. Janganlah engkau menggembosinya dengan ucapan yang hina ini, (“Kenapa orang-orang sekuler tak dibantah?!“). Manusia masing-masing memiliki kemampuan dan bakat, sedang membantah kebatilan adalah wajib (bagi setiap orang,-pent), walaupun bagaimana tingkatannya. Setiap muslim berada dalam batas pertahanan agamanya”. [Lihat Ar-Rodd ala Al-Mukholif (hal.57), dan Sittu Duror (hal.111), sebagaimana dalam Madarikun Nazhor, (hal. 68)]

Bolehkah menyebutkan nama ketika menasihati?

Sebagian orang menyalahkan nasihat yang disertai penyebutan nama tokoh atau kelompok yang menyimpang, karena menurut mereka hal tersebut tidak sesuai dengan bimbingan ulama. Adapun yang benar dalam masalah ini, sebagaimana yang difatwakan para ulama adalah boleh menyebutkan nama orang tertentu, jika memang diperlukan. Hal ini tidaklah sama sekali bertentangan dengan sifat wara’. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-‘Allamah Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan –hafizhahullah- dalam tanya jawab dengan beliau di bawah ini :

Pertanyaan: Telah tersebar sikap wara’ yang lemah di tengah-tengah para penuntut ilmu, yaitu apabila mereka mendengar para pemberi nasihat dari kalangan penuntut ilmu atau ulama saat memperingatkan bahaya bid’ah-bid’ah, para pelakunya serta manhaj-manhaj mereka, dengan menyebutkan siapa sesungguhnya mereka, membantah mereka dan terkadang menyebutkan nama-nama sebagian orang yang menyimpang tersebut, walaupun sudah meninggal dunia, karena manusia terfitnah dengannya, dimana sudah dimaklumi semua itu dalam rangka untuk membela agama ini, menyingkap kerancuan dari musuh-musuh yang ada di tengah-tengah barisan kaum muslimin, yang telah menyebabkan perpecahan dan perselisihan di dalamnya. Mereka mengklaim bahwa hal tersebut adalah ghibah yang diharamkan. Apa pendapat Anda tentang hal ini?

Jawab: Kaedah dalam permasalahan ini adalah wajibnya peringatan atas kesalahan dan penyimpangan setelah jelas permasalahannya, apabila hal itu menuntut penyebutan nama orang-orang yang menyelisihi kebenaran, sehingga manusia tidak tertipu dengan mereka, dan khususnya bagi orang-orang yang mempunyai pola pikir yang menyimpang dari kebenaran, atau menyimpang dari jalan dan manhaj yang benar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang dikenal di kalangan masyarakat dan masyarakat tersebut berbaik sangka kepada mereka, maka tidak mengapa disebutkan nama-nama mereka dan diperingatkan manusia dari manhaj mereka.

Para ulama telah membahas hal ini dalam ilmu jahr wa ta’dil, dimana mereka menyebutkan nama-nama perawi dan celaan-celaan atas mereka. Tentu bukan ditujukan kepada pribadi mereka, namun untuk menasihati ummat agar tidak mengambil dari mereka apapun yang di dalamnya terdapat kejahatan terhadap agama, atau kedustaan atas nama Rasulullah –shallallahu’alaihi wasallam-.

Jadi, kaedah dalam permasalahan ini, pertama: Memperingatkan manusia dari kesalahan tanpa menyebut nama pelakunya, jika penyebutannya akan mengakibatkan mudharat atau manfaatnya tidak ada. Selanjutnya, apabila suatu perkara menuntut untuk disebutkan nama pelaku kesesatan tersebut, dalam rangka memperingatkan manusia dari manhaj-nya, maka yang demikian ini adalah termasuk nasihat untuk Allah -‘Azza wa Jalla-, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan untuk pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.

Terlebih lagi, apabila dia memiliki peranan di tengah-tengah manusia, dan mereka berprasangka baik kepadanya, mengkonsumsi kaset-kasetnya dan kitab-kitabnya, maka harus dijelaskan dan diperingatkan dari bahaya orang tersebut. Karena mendiamkannya adalah sesuatu yang membahayakan masyarakat. Jadi, harus disingkap kedoknya, bukan sebagai cacian semata kepadanya, atau melampiaskan dendam, namun sebagai nasihat untuk Allah ‘Azza wa Jalla, kitab-Nya, Rasul-Nya dan untuk pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum. [Lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘anil Asilatil Manahijil Jadidah, (hal. 172)]

Oleh karena itu Asy-Syaikh Bin Bazrahimahullah– pernah mengeritik dengan keras dan “kasar” disertai penyebutan nama secara terang-terangan, sebagaimana yang pernah dimuat oleh koran Ar-Riyadh (no. 12182), ketika beliau –rahimahullah– men-tahdzir bahaya Muhammad Al-Mis’ari, Sa’ad Al-Faqih dan Usamah bin Laden dengan menyebutkan nama-nama mereka dengan tegas. (Lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘anil Asilatil Manahijil Jadidah, (hal. 66)]

Dan ketika beliau (Asy-Syaikh Bin Bazrahimahullah-) menjelaskan tentang keadaan kelompok-kelompok sesat, pun satu sama lainnya saling menyesatkan, maka beliau menegaskan bahwa kewajiban para ulama untuk menasihati kelompok-kelompok tersebut. Kemudian jika ternyata mereka membangkang, maka beliau –rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya wajib untuk men-tasyhir dan men-tahdzir dari orang yang menyimpang tersebut, dilakukan oleh seorang yang mengetahui hakikat (kesesatannya), sehingga manusia menjauh dari jalan mereka, dan agar orang yang tidak mengetahui hakikat mereka tidak kemudian bergabung bersama mereka, yang pada akhirnya merekapun menyesatkannya dan memalingkannya dari jalan lurus yang telah Allah perintahkan kita untuk mengikutinya.” (Lihat Fatawa al-‘Ulama al-Mu’ashirin fi Hukmit Ta’awuni ma’al Mukhalifin, hal. 8-9, softcopy dari www.sahab.net )

Peringatan Penting

Wajibnya memperingatkan umat dari bahaya kesesatan seorang tokoh atau suatu kelompok tertentu, meskipun terkadang harus dengan menyebutkan namanya, bukanlah berarti bahwa semua orang boleh berbicara dalam bidang ini, walau dia bukan orang yang mengerti hakikat dari tokoh atau kelompok tersebut. Apalagi jika tidak dibimbing oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta arahan para ulama dan asatidzah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena yang demikian itu bisa menyebabkan seseorang terjatuh dalam satu bentuk dosa besar, yakni berkata tentang agama Allah tanpa ilmu!!

Lantaran itu kami tegaskan, sebagaimana yang telah dibimbingkan oleh para ulama bahwa berbicara tentang kesesatan seorang tokoh atau jama’ah yang menyimpang, haruslah terpenuhi dua syarat :

Pertama: Ilmu, baik ilmu tentang keadaan orang atau jama’ah tersebut mapun ilmu tentang agama ini.

Kedua: Salaamatul qosdi, niat yang ikhlas karena Allah Tabaraka wa Ta’ala, tidak ada di balik itu suatu kepentingan dari kepentingan-kepentingan dunia ini.

Wallahu A’la wa A’lam.

(Artikel ini dialihtuliskan untuk umum dari artikel khusus kami di http://www.almakassari.com)

Pos ini dipublikasikan di Manhaj dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Memperingatkan Bahaya Kelompok Sesat, Antara Nasihat dan Cacian

  1. Ping balik: JANGAN MEMBELA KELOMPOK SESAT ! « Ta'dzhim As-Sunnah

  2. Ping balik: JANGAN MEMBELA KELOMPOK SESAT ! « WAHAI UMAT MANUSIA, PELUKLAH AGAMA ISLAM AGAR KALIAN SELAMAT DUNIA AKHERAT, SESUNGGUHNYA ISLAM ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN (085657260185)

  3. Ping balik: JANGAN MEMBELA KELOMPOK SESAT ! « Learn something by Tomy gnt

  4. Ping balik: Jangan Membela Kelompok Sesat! « Salafy Garut

  5. Ibnu Amin Razip al-Bayani berkata:

    جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s